Cerita Dewasa Hilangnya Keperjakaanku

323 views
cerita dewasa

cerita dewasa

Ayahku adalah seorang Kepala
Sekolah Dasar dan Ibuku
adalah seorang Guru Agama di
salah satu MTs di Kota P,
sebuah kota kecil di wilayah E
– Jawa Tengah, jadi bisa
dibayangkan betapa ketat
mereka mendidik anak-anaknya
dalam hal keagamaan. Setiap
sore aku wajib mengaji di
sebuah langgar di kampungku
agar jiwa keagamaan terpateri
dalam jiwaku. Itulah keadaanku.
Kurang lebih tiga belas tahun
yang lalu saat aku jadi
pengangguran setelah gagal
mengikuti UMPTN, aku
merantau ke Jakarta untuk
mencari kerja sambil menunggu
kesempatan untuk ikut UMPTN
berikutnya. Selama di Jakarta
aku menumpang ditempat
kontrakan kakakku yang juga
masih bujangan, yang saat itu
sudah bekerja.
Sekian lama di Jakarta
rupanya keberuntungan belum
berpihak kepadaku, sehingga
akhirnya aku memutuskan
untuk pulang kampung. Soalnya
kupikir mending jadi
pengangguran di kampung
sendiri daripada lontang-
lantung di kota orang.
“Mas..!! Aku besok mau pulang
saja ke P,” aku minta ijin
kakakku malam harinya setelah
ia istirahat.
“Lho, ngapain pulang? Kan
mending di sini dulu, sambil
nyari-nyari kerja. Siapa tahu
sebentar lagi dapat kerjaan.”
“Ah enggak enak nganggur
terus di sini Mas. Mending
nganggur di P aja. Banyak
temannya. Di sini lontang-
lantung sendirian enggak
enak.”Cerita Sex Ngentot Ibu Kos Berjilbab
“Ya sudah kalau maumu
begitu.”
Akhirnya kakakku tidak bisa
berbuat banyak dan
membiarkan aku pulang ke
Kota P keesokan harinya. Siang
itu aku sudah berangkat dari
Grogol, tempat kontrakkan
kakakku ke arah Pulo Gadung
untuk pulang kampung dengan
bus malam. Akhirnya aku
memperoleh bus yang lumayan
longgar, karena memang
penumpangnya sedikit. Aku
memilih bangku yang isi 2
dibelakang dekat pintu
belakang. Karena kebetulan
tempat itulah yang masih
kosong. Lainnya sudah terisi
walau cuma satu-satu. Aku
tidak ingin duduk dengan
orang yang tidak kukenal
karena aku memang agak
kurang bisa bergaul.
Bus berangkat dari Pulo
Gadung dengan banyak bangku
yang masih kosong. Begitu
sampai Cakung, bus berhenti
lagi dan banyak sekali
penumpang yang ikut naik.
Salah satu yang kebetulan
memilih duduk dikursi sebelahku
adalah seorang perempuan
yang kalau kutaksir mungkin
umurnya sekitar 29 tahun-an.
Saat itu aku masih baru 19
tahunan. Tubuhnya cukup
tinggi untuk ukuran wanita
Indonesia yaitu sekitar 160 Cm
dengan bobot yang cukup
proporsional. Tidak gemuk dan
tidak pula terlalu kurus.
Kulitnya putih bersih dengan
potongan rambut pendek ala
Demi Moore. Wajahnya tidak
begitu cantik tapi cukup
menarik untuk dipandang.
“Sini masih kosong dik??”
tanyanya yang sempat
mengagetkanku
“Ooh.. ap..apa mbak?”
“Bangku ini masih kosong
enggak? Ngalamun ya?” ia
mengulangi pertanyaannya
sambil tersenyum.
“Oh iya mbak masih kosong
kok!!”
“Enggak mengganggu kan kalau
aku duduk disini?”
“Oh..eh..enggak apa-apa mbak!!”
Akhirnya perempuan itu duduk
di sebelahku. Yach, walaupun
tidak begitu cantik namun
orangnya putih bersih. Dalam
hati aku sempat bersorak
juga, aku pikir ini mungkin
rejeki juga soalnya masih
banyak kursi kosong eh, kok
perempuan ini malah memilih
duduk di kursi paling belakang.
Dan dasar aku yang sulit
bergaul, aku jadi cuma berani
mencuri-curi pandang
kearahnya tanpa berani
memulai percakapan. Hatiku
dag-dig-dug tak karuan
soalnya gugup kalau
berdekatan dengan perempuan
yang belum kukenal.
Rupanya lama-lama perempuan
itu tahu juga kalau aku selalu
mencuri-curi pandang
kearahnya. Karena pas aku lagi
melirik kearahnya, tiba-tiba ia
menengok kearahku sambil
tersenyum. Plos! Aku tak
sanggup berkata apa-apa
saking gugupnya karena
ketahuan telah mencuri-curi
pandang.
“Kenapa dik? Ada yang salah
dengan diriku?”
“Eh..oh.. enggak apa-apa kok
mbak,” jawabku gugup.
“Lho dari tadi Mbak amati
kamu selalu mencuri-curi
pandang padaku memangnya
kenapa?” ia masih tersenyum.
“Ah, eng..enggak kok mbak.
Saya memang suka grogi kalau
berdekatan dengan wanita
yang belum kenal kok mbak.”
“Ooo.. begitu ya. Eh, ngomong-
ngomong adik ini mau
kemana?”
“Saya mau pulang ke Kota P,
mbak! Nah kalau mbak sendiri
mau kemana?” tanyaku agak
berani setelah percakapan
mulai terbuka.
“Sama dik! Saya juga mau ke
Kota P, tepatnya ke K. Adik P-
nya di mana?”
“Sa.. saya di kotanya mbak!”
“Kalau di kotanya.. kenal sama
mbak I enggak? Dia itu
anaknya pak S yang jadi
Kepala SD di K. Dia juga
rumahnya di kota-nya.”
“Ooh, mbak I yang dulu pernah
jadi juara bintang radio ya
mbak? Kalau itu sich saya
kenal banget, wong itu
kakakku yang paling besar
kok. Dan dia sekarang malah
tinggal di Jakarta ikut
suaminya. Sekarang dia ngajar
di salah satu SMUN di Halim.”
“Ooh jadi adik ini adiknya mbak
I ya? Kok saya dulu waktu
main ke rumah mbak I nggak
pernah ketemu adik?”
Setelah melalui percakapan
yang panjang akhirnya aku
tahu namanya adalah mbak Yn
dan bekerja di Instansi
Keuangan di bilangan Kalibata
Jakarta Selatan. Ia kebetulan
pada saat itu mau pulang
untuk cuti selama dua minggu.
Dari percakapan itulah aku
juga tahu bahwa ia sudah
menjadi janda karena suaminya
kawin lagi dan ia memilih cerai
daripada dimadu. Ia berumur 29
tahun saat itu dan sudah
memiliki seorang anak
perempuan yang baru berumur
5 tahun yang tinggal dengan
Bapak Ibunya mbak Yn di K.
Kami berdua semakin akrab,
karena mbak Yn memang
orangnya supel dan pintar
bicara. Pada saat ia
mengeluarkan kue kering
untuk dibagikan padaku, tanpa
sengaja tanganku dipegangnya.
Badanku mulai gemetar tak
tahu apa yang harus
kulakukan, sehingga aku tetap
memegang tangannya yang
halus walaupun kue-nya telah
kupegang dengan tangan yang
satunya. Tanpa sadar kami
masih berpegangan tangan
untuk beberapa saat dalam
kegelapan bus malam yang
melaju kencang menembus
kegelapan malam.
Tanpa kata-kata kami saling
meremas jemari masing-masing
dalam kegelapan, karena
memang lampu bus telah
dimatikan. Hatiku semakin
berdebar tak karuan. Apalagi
saat kulirik ia juga menengok
ke arahku sambil tersenyum.
Aku malu sekali, ingin
kulepaskan tangannya, tetapi
justru ia semakin erat
menggenggam jemariku. Bahkan
ia menyenderkan tubuhnya ke
badanku. Aku semakin gemetar
dan panas dingin dibuatnya.
“Dik Gaber kenapa? Kok
gemeteran sih?”
“Eh.. oh.. enggak kenapa-
kenapa kok mbak!”
“Memang dik Gaber belum
pernah punya pacar?”
“Sudah pernah sich mbak..
cuman cinta monyet. Biasa,
cuman surat-suratan waktu
SMA dulu,” gemeteranku
semakin kelihatan dalam
suaraku.
“Ooh, makanya gemeteran
begini. Mbak ngantuk boleh
tidur nyandar bahu dik Gaber
khan?”
Tanpa menunggu jawaban
dariku, mbak Yn telah
menyandarkan kepalanya ke
tubuhku. Aku yang duduk di
dekat jendela jadi semakin
terpojok. Entah disengaja atau
tidak pada saat ia
menyandarkan tubuhnya
ketubuhku bagian dadanya
yang empuk ketat menekan
lenganku. Hal ini membuat aku
yang belum pernah berdekatan
dengan wanita menjadi sangat
terangsang. Batang
kemaluanku mulai menggeliat
bangun dan mengeras yang
menimbulkan rasa sakit karena
terjepit celana jeans-ku yang
ketat. Kemudian tanganku
dilingkarkan kepundaknya dan
sekarang ia menyandar di
dadaku dengan tangan yang
bebas memelukku.
Udara malam yang dingin
semakin membuat kami terlena
dalam kehangatan saling
berpelukan. Apalagi suasana
bus yang gelap sangat
berpihak pada kami. Tangan
mbak Yn bergerak perlahan
menyusur tulang iga-ku dan
bergerak terus ke atas ke
bawah. Aku yang merasa
kegelian dan terangsang
bercampur aduk jadi satu
menjadi sesak napasku. Ia
terus menggerakkan
tangannya sampai akhirnya ia
pun memegang tanganku yang
satunya dan dibimbingnya ke
arah dadanya. Dengan rasa
penasaran dan takut
kubiarkan saja apa yang
dilakukannya. Aku membiarkan
saja tanganku dibimbing kearah
dadanya yang kalau kulihat
dari kaus yang dikenakannya
besarnya sedang. Begitu
menyentuh tonjolan bukit yang
membusung di balik kaos mbak
Yn, tanganku ditekannya. Aku
mengikuti saja apa yang
dilakukan oleh mbak Yn. Karena
belum tahu apa yang musti
dilakukan dalam menghadapi
situasi semacam ini, tanganku
hanya bergerak menekan-
nekan seperti apa yang
dibimbing mbak Yn tadi.
Sementara itu tangan mbak Yn
sudah mulai berpindah.
Sekarang tangannya mengelus
lututku kearah atas dan balik
lagi ke bawah sehingga
membuat batang kemaluanku
yang kencang menjadi semakin
sakit karena terjepit celanaku
yang ketat. Aku menggeser
kakiku untuk memperbaiki
posisi batang kemaluanku yang
terjepit celana dangan
merenggangkan kedua kakiku
agak terbuka. Hal ini membuat
tangan mbak Yn semakin
leluasa bergerak menyusur
paha ku di bagian dalam hingga
keselangkanganku dan
menekannya dengan lembut
begitu tangannya berada di
atas bagian celanaku yang
menonjol. Napasku semakin
sesak mendapat perlakuan
yang seumur hidupku baru
kurasakan ini. Apalagi kemudian
tangan mbak Yn seolah-olah
memijat dan meremas batang
kemaluanku yang sudah sangat
kencang dari luar celana
jeans-ku. Sementara tanganku
tanpa sadar sudah mulai
meremas-remas kedua bukit
payudara mbak Yn bergantian
dengan gemasnya.
“Sekarang sabuk dik Gaber
dilonggarkan,” bisik mbak Yn.
“Ken.. kenapa mbak??” bisikku
kaget.
“Kalau kencang begini kan ini-
nya bisa kesakitan,” kata
mbak Yn sambil menekan
batang kemaluanku dari luar.
Seperti kerbau dicucuk
hidungnya aku nurut saja apa
yang dikatakan mbak Yn.
Kulonggarkan sabukku dan
duduk dengan posisi seperti
semula. Aku yang semula
penakut sekarang menjadi lebih
berani. Dengan tabah
kutelusupkan tanganku
kedalam kaos mbak Yn lewat
bawah, kemudian merayap
mengelus perutnya yang halus
ke atas dan terus keatas
hingga berhenti di atas bra
mbak Yn yang lembut. Tangan
mbak Yn bergerak ke balik
punggungnya dan tiba-tiba
kurasakan kain penutup bukit
payudara mbak Yn jadi longgar.
Rupanya tadi mbak Yn
membuka kait bra-nya yang
ada di belakang. Aku jadi
leluasa bergerak meremas dan
mengelus kedua bukit
payudaranya yang kenyal dan
halus silih berganti. Serasa
mendapat mainan baru aku
dengan gemas dan antusias
meremas, mengelus dan
meraba-raba kedua tonjolan
bukit payudara mbak Yn yang
kenyal dan halus itu.
“Mmhhh,” napas mbak Yn
kudengar mulai memburu saat
dengan gemas putting
payudaranya yang mulai
mengeras itu kupelintir dengan
jepitan telunjuk dan ibu jariku.
Lalu aku sendiri merasakan
sekarang tangan mbak Yn
mulai menarik ritsluiting celana
jeans-ku dan menyusupkan
tangannya kebalik CD-ku.
Napasku tertahan dan badanku
semakin panas dingin saat
tangan mbak Yn yang lembut
mulai menyelusup ke dalam CD-
ku dan mengusap rambut yang
tumbuh di sekitar kemaluanku.
Tanganku semakin liar meremas
dan meraba kedua bukit
kembar di dada mbak Yn,
ketika kurasakan ada sesuatu
yang meledak-ledak dan
mendorong di bawah pusarku
karena tangan mbak Yn yang
hangat dan lembut kini sudah
mulai mengusap dan meremas
batang kemaluanku dengan
lembut.
Mungkin mbak Yn yang sudah
berpengalaman mengetahui
keadaanku hingga semakin
kencang meremas dan
mengurut batang kemaluanku
yang sudah sangat kencang.
Napasku seolah terhenti, dan
mataku erat terpejam saat
kurasakan sesuatu yang
mendesak di perut bagian
bawahku tidak dapat kutahan
lagi dan meledak. Badanku
serasa mengawang dan
kurasakan suatu kenikmatan
yang belum pernah kurasakan
saat rasa ingin kencing yang
tidak dapat kutahan lagi
keluar dan membasahi tangan
lembut mbak Yn. Crrrtt! Cratt!
“Ahhh!”, tanpa sadar aku
melenguh. Aku jadi malu sekali
pada mbak Yn.
“Enak dik??” bisik mbak Yn
mesra.
“Ah, mbak Yn. Saya jadi malu
karena mengotori tangan
mbak.”
“Enggak apa-apa kok. Memang
dik Gaber belum pernah keluar
itu-nya?”
“Kalau onani sendiri sich
pernah mbak, tapi kalau yang
begini, be.. belum mbakO”
“Terus kalau tidur sama cewek
sudah pernah belum?”
“Be.. belum mbak. Saya enggak
berani.”
“Nah kalau belum pernah dan
ingin merasakan tidur dengan
cewek, nanti kita bisa nginap
dulu sebelum pulang. Dik Gaber
mau enggak?”
“Ah, sa.. saya takut mbak!”
“Lho, takut sama siapa? Kan
mbak enggak nggigit, malah
bikin kamu keenakan iya kan?”
Aku terdiam karena tidak tahu
musti menjawab apa. Di sisi lain
aku ingin dan penasaran sekali
merasakan bagaimana rasanya
tidur dengan cewek,
sementara di sisi lain aku
merasa takut pada apa.
Entahlah aku tidak tahu.
Mungkin dogma agama yang
telah tertanam dalam diriku
bahwa tidur dengan
perempuan yang bukan
muhrimnya adalah zina,
membuat rasa takutku timbul.
Lama aku bergulat dalam
pikiranku antara ya dan tidak,
tetapi rupanya syeitan telah
keluar sebagai pemenangnya.
Kediamanku ternyata dianggap
sebagai persetujuanku.
Bus kami sampai ke Kota P dini
hari. Pukul 03.00 bus kami
sudah masuk terminal.
Sementara untuk pulang harus
berganti bus lagi dan belum
ada bus yang ke kotaku yang
berangkat. Apalagi mbak Yn
yang dari kotaku masih harus
naik angkutan pedesaan lagi,
jadi cukup beralasan kalau
kami akhirnya memutuskan
untuk menginap. Kami pun
akhirnya mencari penginapan
yang banyak bertebaran di
sekitar terminal.
Singkat cerita kami pun check-
in satu kamar. Kemudian aku
langsung masuk kamar mandi
dan mandi karena risi CD-ku
basah sekali oleh air maniku
sendiri setelah di bus tadi aku
sempat mengalami orgasme
karena dikerjain mbak Yn.
Selagi mandi tiba-tiba mbak Yn
masuk ke kamar mandi dengan
tanpa sehelai kain pun
menutupi tubuhnya yang putih.
Aku terkesiap. Mataku melotot
menyaksikan pemandangan luar
biasa yang baru seumur-umur
kulihat ini. Tubuhnya yang
polos berdiri di depan mataku
tanpa ada rasa sungkan sama
sekali. Kulitnya putih bersih,
perutnya yang cukup rata
tanpa guratan bekas
melahirkan kelihatan serasi
dengan tonjolan bukit
payudara-nya yang sedang
besarnya yang masih kencang
menggantung di dada mbak Yn.
Putingnya kulihat besar dan
berwarna agak kecoklatan.
Sementara di bagian bawah
perutnya tampak tonjolan
bukit yang lebat ditumbuhi
bulu-bulu hitam yang sangat
lebat. Sehingga kulihat sangat
kontras sekali perpaduan
antara kulitnya yang putih
bersih tanpa cacat berpadu
dengan sebentuk warna hitam
yang terpusat di bawah
perutnya.
Aku masih melongo saat ia
memencet hidungku sambil
tersenyum dan mengatakan
ingin ikut mandi sekalian.
“Aku mandi sekalian aja.
Soalnya udah keburu ngantuk,
biar tidurnya enak!” demikian
ia berkilah.
“Ak.. aku malu mbak,” dalam
hatiku sebenarnya senang
soalnya ini adalah pertama kali
aku dapat melihat tubuh
wanita telanjang. Syeitan
benar-benar telah
memanangkan diriku. Yang
kuingin pada saat itu adalah
cuma rasa penasaran.
“Alaah.. pakai malu segala,”
desisnya, “Ayo sini mbak
mandiin.”
Aku diam saja karena tak
mampu berkata-kata lagi.
Kemudian mbak Yn mengambil
sabun dan mulai menggosok
tubuhku yang sudah basah
dengan tangannya yang penuh
sabun. Perlahan rasa nikmat
itu menyerangku lagi saat
tangan mbak Yn menggosok
punggungku dengan sabun dan
sebentar-sebentar tonjolan
lembut dan hangat di dadanya
menekan punggungku dari
belakang saat ia menyabun
dadaku dari arah belakang.
“Akhhh,” aku mendesah
panjang saat mbak Yn dengan
memelukku ketat dari belakang
menyabun tubuhku bagian
bawah, aku begitu terangsang.
Di punggungku menempel ketat
tonjolan bukit payudara yang
lembut dan hangat, sedangkan
selangkanganku digosok-gosok
dan diurut tangan mbak Yn
yang lembut. Kupejamkan
mataku untuk menikmati
sensasi yang luar biasa bagiku.
Aku merasakan betapa batang
kemaluanku yang sudah tegang
berdenyut-denyut dalam
genggaman tangan mbak Yn
yang licin karena busa sabun.
Ia terus mengurut-urut batang
kemaluanku ke atas dan ke
bawah dengan lembut dengan
sesekali diselingi remasan di
kantung buah zakarku.
Napasku kian memburu dan
desahanku kian kencang.
“Ouchh, shhhh, mbaaakkk..
ouchhhhh!” aku hampir saja
merasakan adanya sesuatu
yang mendesak hendak keluar
dari bawah perutku. Dan mbak
Yn yang rupanya sudah cukup
berpengalaman tahu
keadaanku hingga ia
menghentikan aksinya.
“Sekarang gantian mbak yang
dimandiin dong,” pinta mbak Yn
tak berapa lama kemudian. Aku
pun mengguyur tubuh
telanjang mbak Yn dengan air
dan kemudian tanganku
dengan canggung mulai
menyabuni punggungnya.
“Pelan-pelan dik, jangan
takut,” bisiknya yang membuat
keberanian dan rasa pede-ku
mulai bangkit. Aku pun mulai
meraba (menyabuni) punggung
mbak Yn kemudian tanganku
mulai berani nakal mulai turun
ke pinggulnya, terus turun dan
akhirnya dengan gemas
tanganku mulai meremas sambil
menyabuni buah pantat mbak
Yn yang besar dan indah. Lalu
setelah puas bermain-main
dengan pantat mbak Yn, aku
pun mengikuti gaya menyabun
mbak Yn tadi. Tanganku
merayap ke depan dan mulai
menyabuni kedua buah
gumpalan yang menggantung
indah di dada mbak Yn. Dengan
gemas kuurut bukit kembar itu
sehingga putingnya mulai
mengeras.Mama Muda Mastrubasi Sampai Orgasme
“Oohhhh, enaakkk diiik.
Terusshhhh, shhhh!” mbak Yn
mendesis-desis seperti orang
kepedasan. Aku pun tak lupa
menempelkan batang
kemaluanku yang sudah
mengencang sejak tadi ke
tengah-tengah belahan buah
pantat mbak Yn yang
membuatku merasa sangat
nikmat. Apalagi mbak Yn
kemudian menggoyangkan
pinggulnya menggeser dan
semakin erat menekankan
batang kemaluanku ditengah
belahan kedua belah buah
pantatnya yang licin karena
sabun.
“Ouchh, ter.. ter.. ushh dik,”
mbak Yn mendesis desis ketika
tanganku mulai bergerak-
gerak menyabuni gundukan
bukit kecil yang lebat
ditumbuhi rambut di
selangkangan mbak Yn.
Tubuhnya semakin liar
bergerak menggeser batang
kemaluanku yang terjepit di
sela-sela bongkahan buah
pantatnya. Tubuh kami yang
licin sangat membantu
pergerakan dan gesekan-
gesekan tubuh kami. Hal ini
membuat sensasi yang luar
biasa bagi kami berdua. Batang
kemaluanku yang terjepit
diantara belahan buah pantat
mbak Yn dan tubuhku sendiri
semakin berdenyut denyut. Aku
sudah tidak tahan lagi.
“Oochh.. mbaakkk aku su..
sudah tak ku.. aatthh mbaaak!”
bisikku di telinganya. Mbak Yn
pun menghentikan gerakannya
dan memintaku untuk segera
membersihkan tubuh kami dari
sabun.
Beberapa siraman air dingin
ternyata cukup untuk
menolongku untuk tidak sampai
mengeluarkan air maniku yang
sudah mendesak-desak ingin
disalurkan. Aku merasa agak
cool walau pun batang
kemaluanku masih tegak
berdiri. Dan setelah selesai
mengeringkan tubuh kami
dengan handuk, mbak Yn
segera menuntunku untuk
menuju ke tempat tidur.
Dengan masih bertelanjang
bulat kami bergandengan
tangan dan melemparkan
tubuh kami ke tempat tidur
double-bed yang empuk.
Kami berbaring saling
bersebelahan. Mbak Yn yang
sudah berpengalaman rupanya
tahu bahwa aku masih sangat
hijau dalam hal seperti ini.
Dengan serta merta tanganku
dibimbingnya ke arah dadanya,
sementara tangannya sendiri
juga mulai mengelus dadaku.
Kembali kami saling raba dan
saling pencet. Tanganku segera
meremas bukit payudaranya
dengan gemas bergantian
kanan dan kiri.
“Oohhh, terushhh diiik,” Mbak
Yn terus mendesah.
“Aahhh!”, aku pun ikutan
mendesah tatkala tangan mbak
Yn kembali mengurut-urut
batang kemaluanku dengan
lembut. Tubuhku menggigil
menahan kenikmatan yang luar
biasa ketika tangan mbak Yn
mengocok-ngocok batang
kemaluanku.
“Mbaak, oohhhh!”
“Sek.. sekarang kamu naik..
diiik.. oochhh” mbak Yn pun
rupanya sudah tak tahan lagi.
Kemudian dipentangkannya
kedua pahanya lebar-lebar dan
disuruhnya aku untuk naik
keatas perutnya.
Aku pun dengan arahan mbak
Yn segera menempatkan diri di
tengah-tengah pentangan
pahanya dan mulai menindih
tubuhnya. Tangan mbak Yn
segera memandu batang
kemaluanku dan diarahkannya
ke tengah-tengah gundukan
daging di bawah perutnya
yang lebat ditumbuhi rambut.
“Akhhhh!, aku mengerang saat
ujung kepala kemaluanku mulai
digesek-gesekkan oleh mbak
Yn ke celah-celah yang begitu
hangat dan sudah basah.
“Doronghh.. pelan-pelannh diik.
Ouchhh!!”
“Hkk. Ouchhh,” napasku seolah
terhenti seketika ketika ujung
kepala kemaluanku mulai
menerobos celah yang sempit,
hangat dan licin di sela-sela
paha mbak Yn. Mbak Yn pun
kudengar napasnya tertahan
“Achhh, oochh, terushh..
doronghhhh!”
Aku terus mengikuti aba-aba
mbak Yn. Kutarik pantatku ke
atas begitu kurasakan kira-
kira hampir separuh batang
kemaluanku terbenam dalam
celah kemaluan mbak Yn, dan
kemudian kudorong lagi ke
bawah. Setelah beberapa kali
kulakukan hal itu aku disuruh
untuk menekan dan
membenamkan seluruh batang
kemaluanku ke dalam liang
kemaluannya “Sekkaranghhh,
ma.. masukkanhh.. Ouchhh!”,
Mbak Yn menjerit tertahan
saat kutekan pantatku kuat
kuat hingga seluruh batang
kemaluanku terbenam kedalam
liang kemaluannya yang masih
cukup sempit dan sangat
hangat. Mbak Yn pun segera
menggerakkan pinggulnya
memutar.
Baru beberapa putaran
dilakukan mbak Yn. Tiba-tiba
aku merasakan seolah-olah
batang kemaluanku seperti
diremas-remas oleh jepitan
daging yang licin dan hangat
sehingga mataku sampai
terpejam erat-erat menahan
nikmat yang amat sangat. Aku
merasakan seolah olah ada
desakan yang maha dahsyat
yang mendesak dari bawah
pusarku. Desakan itu terlalu
kuat untuk dapat kutahan
“Ouuchh.. mbakkk, akk sudahhh
oochhhhhh”, dengan erangan
yang panjang aku merasakan
seolah-olah tubuhku tersentak
oleh aliran listrik ribuan volt,
jiwaku seolah melayang dan
kepalaku terdongak ke atas.
Mbak Yn yang sudah tahu
kondisiku semakin gila memutar
pantatnya diangkatnya
pantatnya tinggi-tinggi untuk
menyongsong sodokanku.
“Terr.. russh. Terushhh.. ohhh..
terussshhhh”, desisnya tak
henti-henti. Sementara aku
sudah tidak mampu lagi
menahan ledakan yang sedari
tadi kucoba untuk
menahannya. Dan crrrt,
cratttt! Jebolah pertahananku.
Air mani keperjakaanku
menyembur di dalam liang
kemaluan mbak Yn yang
hangat dan memenuhi semua
celah yang ada di dalamnya.
Badanku masih terkejat-kejat
untuk beberapa saat lamanya
seolah-olah menuntaskan sisa-
sisa kenikmatan yang ada.
“Terr.. ushhh.. diiikkk,
terusshhhh!”, desisnya
berulang-ulang. Namun aku
sudah tak mampu bergerak
lagi.
Dengan gemas mbak Yn yang
rupanya sedang dalam
pendakian segera membalik
tubuhku dan kini posisinya
menindihku. Walau pun sudah
terkuras air maniku, namun
batang kemaluanku belum
begitu mengendur. Sekarang
giliran mbak Yn yang bergerak
di atas perutku. Tubuhnya
bergerak liar seperti seorang
joki yang sedang menaiki kuda
balap. Payudaranya
bergoyang-goyang indah.
“Ayo, putar pinggulmu diikkkh..
ouchhh.”Cabe-cabean Nakal Bugil Lalu Ngentot
Aku pun mengikuti
komandonya. Kugerakkan
pinggulku memutar seperti
yang diinginkan mbak Yn.
“Ya, ya.. beg..ituuu. Ouchhhh!
Terushhhh!” akhirnya
kurasakan jepitan liang
kemaluan mbak Yn semakin
erat menjepit batang
kemaluanku. Tubuh mbak Yn
tersentak dan matanya
membeliak.
“Ouchhhh, terrushhhh,” dan
akhirnya tubuhnya ambruk di
atas perutku.
“Shh.. kamu.. sudah cukup
hebbathhh dikk!”, napasnya
mulai teratur.
“Tapi saya kalah mbak, saya
sudah keluar duluan!”
“Enggak apa apa. Mbak juga
bisa orgasme kok! Memang
kamu baru kali ini merasakan
bersetubuh ya dik?”
“Iya mbak. Terima kasih ya
mbak telah memberikan
pengalaman yang berharga
bagi saya.”
“Saya justru yang terima
kasih, kamu telah memberikan
kehangatan pada mbak yang
sudah cukup lama tidak
merasakan seperti ini sejak
bercerai dulu.”
Begitulah kami pun lalu
beristirahat sambil tetap
berpelukan dengan tubuh mbak
Yn masih tetap menindihku dan
batang kemaluanku masih
tetap menancap di dalam
kehangatan liang kemaluan
mbak Yn.

Tags: #cerita bokep #Cerita dewasa #cerita hot #cerita hot terbaru #cerita mesum #cerita ngentot #cerita pemerkosaan #cerita perselingkuhan #cerita porno #cerita seks

Comments are closed.

Author: 
    author